Sabtu, 09 Februari 2013

Pernikahan Sekejap Mata



PERNIKAHAN SEKEJAP MATA
Pernikahan bagi semua insan adalah dambaan. Begitu juga denganku, dan alhamdulillah Allah telah memberiku jodoh,  walaupun menurutku hanya sekejap mata. Seorang pria sholih nan tampan meminangku dengan sangat bersahaja.
Empat belas tahun bagiku tidaklah cukup utuk mendampingi suamiku Muhammad Ridwan Abdullah ( Iwan ) seorang pria yang terlahir dari keluarga bersahaja namun berpendidikan tinggi dan keluarga yang sholih dan sholihah, ayah dan ibunya adalah guru.
 Allah mentakdirkan yang terbaik untuk kami, Allah memanggil suamiku pulang tatkala baru saja kami merayakan dan mensyukuri pernikahan kami yang baru empat belas tahun kami jalani bersama dalam suka dan duka, namun bagaimanapun juga pernikahan itu tetaplah indah untuk dikenang
Tanggal 1 februari 1998, suamiku datang untuk melamarku pada orangtua, walau tanpa didampingi siapapun, dia datang sendiri dengan segenap keberanian dan niat sucinya, setelah kami berkenalan cukup lama, empat tahun. Walaupun kami sudah saling mengenal sejak kecil, kami tinggal satu kelurahan dan kami satu kelas selama tiga tahun di SMPN 2 Cianjur, aku tak menyangka kalau dia akan melamarku hari itu juga, aku tak menaruh curiga apapun, karena dia sudah terbiasa datang ke rumah orangtuaku dan berbincang dengan beliau dan keluarga besarku.
 Waktu itu dia berbincang dengan orantuaku saja di lantai atas, sedangkan aku sibuk di dapur berbincang dengan kakakku yang sedang hamil tua, tanpa dinyana ibu dan ayahku turun ke dapur dan menanyaiku serius sekali “ Aisah, kamu serius mencintai Iwan?” aku hanya mengangguk karena aku memang mencintainya, “ kamu siap jadi istrinya?” aku hanya terdiam, “ kamu yakin dengan pilihanmu? “ “ Kamu sudah sholat istikharah?” dan sebagainya, intinya Aa Iwan meminta keputusan aku dan orangtuaku hari itu juga, dan akhirnya aku hanya menjawab “ Terserah Allah sajalah, kalau Abah dan Emak ridha sama Iwan, berarti Allah pun Ridha, kalau abah dan Emak tidak ridha, berarti Allah pun murka “ hanya itu yang bisa aku ucapkan, orangtuaku hanya mengangguk mengiyakan kemudian berbincang kembali dengan Aa Iwan.
“ Apa yang akan kamu minta sebagai mahar?” pertanyaan itu yang pertama kali  meluncur dari mulut calon suamiku, “ terserah Aa Iwan sajalah, aku engga mau merepotkan, semampunya Aa, aku akan ridha apapun yang Aa beri untuk aku “ “ kamu siap jadi istri Aa, Ning?” lanjutnya “ inshaa Allah”, aku menunduk entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu, antara teharu, bahagia, sedih dan malu bercampur menjadi satu. Seolah-olah aku baru pertama kali bertemu dengan pemuda soleh dan tampan ini, padahal sebelumnya kami sudah sering bertemu dan saling kenal. Aku bahagia karena aku akan menjadi seorang istri bagi pria yang aku cinta, sedih karena orangtuanya tak merestui hubungan kami, sehingga dia nekat datang sendirian melamarku, terharu karena keberanian dan niat tulusnya melamarku, malu karena aku tak secantik bidadari di syurga, akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada tanggal 22 Februari 1998, pernikahan sederhana yang penuh berkah, dengan mahar delapan gram emas saja, akupun ridha menerimanya, Alhamdulillah !
Seiring berjalannya waktu, penikahan kami pun bertambah dengan anggota keluarga yang baru, anak-anak kami hadir menghiasi rumah tangga kami, anak pertama lahir setahun pernikahan kami, bulan Maret 1999,seorang bayi laki-laki, anak kedua September 2000,juga laki-laki, anak ketiga perempuan pada bulan September 2003, kemudian keempat oktober 2009, dan kelima Desember 2011,keduanya laki-laki.
 Seperti yang telah Allah SWT janjikan dalam surah An-Nur  ayat ke 32,  Allah SWT berfirman : “ Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak ( menikah ) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki ataupun ynag peremupuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Allah maha luas ( pemberian-Nya ) Maha mengetahui.” Begitulah, karena keyakinnannya kepada pertolongan Allah begitu kuatnya suami memintaku untuk memberinya lima buah hati,dan memang betul, setiap kelahiran satu putra Allah selalu memberi kami satu rizki baru, namun dibalik itu semua, Allah menguji kami juga, suami mulai sakit-sakitan karena  sering kerja ship malam, dan pulang ke rumah dengan naik motor, karena hanya itu kendaraan yang kami punya, namun efeknya penyakit paru-paru bersarang di dalam tubuhnya, sehingga beliau dinyatakan menginap penyakit Tubercholosis dan harus dirawat di RS Al Ihsan Baleendah Bandung.
Suami dirawat untuk pertama kalinya tahun 2010 ketika anak yang keempat berumur empat bulan, aku harus rela pulang pergi ke RS karena suami tidak mau ditinggal atau dijaga oleh orang lain, aku pun harus menyusui si ade yang masih kecil. Suami dinyatakan sembuh setelah berobat sembilan bulan penuh, kami bahagia waktu dokter di RS menyatakan suami sudah sembuh, namun kebahagiaan itu hanya sesaat, suami harus dirawat lagi setahun kemudian di RS lain karena suami muntah darah yang begitu banyak di tempat parkir RS Al-Islam Bandung, aku tak bisa membendung air mata ku, aku hanya bisa menangis melihatnya terkapar di ruang UGD, akhirnya setelah dua minggu dirawat suamiku boleh berobat jalan. Selain berobat ke RS suami mencoba berobat ke pengobatan alternatif seperti BRC dan IHC di Bandung, Alhamdulillah kelihatan lebih sehat, namun Allah menguji kami kembali, setelah memberi kami satu buah hati yang lucu di akhir Desember 2011, Allah memberi kami sebuah rumah baru plus sawah yang lumayan luas, kami pun berencana membeli lahan di pinngir jalan untuk garasi mobil, karena rumah yang terakhir berada jauh di dalam gang, impian kami waktu itu terbeli sebuah mobil karena anggota keluarga kami bertambah satu, namun Allah punya rencana lain yang kadang diluar dugaan kita sebagai makhluk yang lemah, suamiku mulai sakit lagi, dia tidak mau dirawat di Bandung, dia memaksaku untuk membawanya pulang ke Cianjur kota kelahiran kami, aku pun membawanya pulang kampung dengan mobil sewaan.
 Melihat kondisinya yang semakin kritis aku hanya bisa pasrah dan menangis, aku merayunya dan sedikit membohonginya agar dia mau dirawaat di RS, karena suami sudah bosan dengan obat kimia, suami minta saya membawanya ke pengobatan aternatif yang ada di Cianjur, tapi aku memaksanya masuk UGD di RSUD Cianjur, karena memorinya sudah terganggu, suami hanya kenal dengan aku istrinya, yang lain tidak satupun yang dikenalnya, dia hanya bias memanggil nama anak-anak satu persatu tapi tak bisa mengenal wajahnya, dokter mengatakan jantung dan lever suamiku sudah terkena virus juga, aku hanya bisa pasrah, di pagi hari suami merasa sedang berada di kantonya di PT PINDAD, dan selalu memanggil nama-nama teman nya, dan di sore hari suami merasa berada di rumah, dan selalu memanggil nama anak-anak satu persatu, aku yang mengingatkannya untuk istighfar, aku juga mengingatkannya untuk sholat, walaupun terkadang bacaan sholatnya mulai kacau, tapi Alhamdulillah dia masih bisa untuk sholat sampai akhir hayatnya.
1 maret 2012, adalah hari terakhir aku bertemu dengan suami tercinta, terakhir kali aku mencium kening dan pipinya, terakhir kali aku memeluknya erat penuh cinta, padahal aku sangat bahagia waktu itu, ketika aku datang membesuknya di pagi hari, dia nampak berwajah ceria dan sehat, bicaranya sudah tidak ngelantur lagi, “ Ma! Peluk Babeh donk!” pintanya, aku pun memeluk dan menciuminya bertubi- tubi saking bahagianya, “ Mama punya uang berapa?” “ Seratus ribu “ jawabku sekenanya, “ Yaah… cukup deh buat kita jalan-jalan naik angkot sama anak-anak, Babeh mau ngumpul sama anak-anak, mau jalan-jalan lagi, mau berenang lagi, mau naik motor lagi, mau ke Pindad lagi, Babeh kangen sama teman-teman” cerocosnya, lancar  seperti sebelum waktu sakit, “ Ya entar, sabar ya Beh!, nanti kalau Babeh dah sembuh dan sehat lagi, kita jalan-jalan, kita berenang lagi dan pulang ke Bojongsoang ya” rayuku, “ Ngga ah! Babeh maunya sekarang, ayo cepat kemasin bajunya tuhhh, beresin semua makanannya, cepat Mah, heuehh boga istri teh teu ngarti wae!” tangannya mengepal erat dan hampir meninjuku, aku menghindar cepat,  “ Mah… mau makan! “ tumben belum waktunya makan dia minta makan, sedangkan makanan dari RS belum diantar, Alhamdulillah ada kakak ipar membawa nasi Tim Ayam, dan suami makan  disuapi dengan lahap, setelah itu minta dibuatkan segelas teh manis dan segelas susu, semua habis dalam hitungan menit, kemudian minta dibuatkan jus alpukat kesukaannya, dan habis dalam sekejap.
 Adzan dzuhur berkumandang, suami mengajakku sholat berjamaah, dia sambil duduk di atas kasur, dan aku di bawah diatas karpet. Setelah berdo’a kemudian dia tertidur pulas, tidur untuk terakhir kalinya dan tak kan pernah bangun untuk selamanya, Allahu Akbar! Hanya Allah yang tahu usia makhlukNya, tangisku tak terbendung mengoyak kesunyian ruang perawatan di Flamboyan no 3 RSUD Cianjur. Aku hanya bisa menjerit histeris ketika petugas membawanya ke ruang jenazah, setelah itu aku tak tahu lagi.

*heuehh boga istri teh teu ngarti wae = heuehh punya istri ngga ngerti aja

Cianjur, 28 Januari 2013

4 komentar:

  1. mbak...aku turut berduka ya... saya baru tau... semoga mba bisa selalu tegar dan kuat ya... Aamiin...

    BalasHapus
  2. Amiinnn, terima ksih do'anya mbak!

    BalasHapus
  3. inna lillahi wainna ilaihi roji'un,
    subhanaLlah...saya selalu acungin jempol salut untuk para singlefighter, bener2 Ibu yang tangguh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mbak Vetrieni, do'akan saja dari jauh, mudah2an mbak dan keluarga selalu sehat dan dijaga Allah SWT, amiinn!!
      terima kasih dah mampir!

      Hapus