Kamis, 23 Mei 2013

Cerpen Pertamaku



Mei kelabu
Oleh : Aisha Khairunnisa

            Aku bergegas menyusuri lorong sekolah, setelah bu Kepsek memanggilku lewat pesan singkatnya di hapeku rasa degdegan menyeruak di dalam dada, entah apa lagi yang akan dibicarakan beliau denganku kali ini, setelah beberapa hari teraakhir kata-kata dan sikapnya membuatku sengak.

            "Ibu tau untuk apa saya memanggil ibu ke sini?” tanya bu Kepsek setelah mempersilahkan aku duduk di hadapannya, bu Kepsek ynag suka berdandan menor itu menatapku tajam, aku hanya menggeleng, urusan apa lagi ni? Batinku

            “Bu Nuning harus siap dengan keputusan saya ya!’ pintanya tanpa menjelaskan sesuatu pun, aku tak berdaya, apapun keputusan Kepsek semua guru harus mentaatinya, semua berlaku di sekolah ini, bukan hanya untuk honorer sepertiku tapi juga guru PNS

            “Mungkin ibu bertanya-tanya dalam hati, apa kepurusan saya itu, ya kan?’ sambungnya, akupun hanya tersnyum kecut, sudah bisa ditebak, nasibku akan seperti bu Tantri guru honor lain wali kelas 1B, yang terpaksa harus berubah menjadi guru mata pelajatan SBK dari kelas satu  sampai dengan enam, hanya karena ponakan bu Kepsek ingin mengajar di kelas satu, dan aku? Masih teka-teki!

            “Bu Nuning kan jago bahasa Inggris, saya perhatikan ibu lebih piawai mengajar bahasa Inggris daripada menjadi wali kleas dua, ya kan bu?’ tujuan dari ucapannya sudah semakin jelas, namun siapa lagi nih yang akan mengganti posisiku sebagai guru kelas dua, sedangkan guru-guru lain sudah mempunyai tugas masing-masing, aku hanya tersenyum kecut, siap dengan keputusannya, apapun yang terjadi aku hanyalah guru honorer yang tak punya saudara seorang pun di sekolah ini

            “Nah, anak ibu yang perempuan mau ngajar juga disini, dia kuliah di jurasan PGSD sekarang, sekalian praktek, tapi dia harus pegang kelas dua, bu Nuning mengerti maksud saya?” ini namanya memaksa bu, gerutuku dalam hati. Aku tertnduk lemas, tapi ya harus bagaiamana lagi, tak ada seorangpun yang berani menyanggah keutusan seorang Kepsek, kalau berani berarti siap dicoret dari daftar satu
***
            Pagi-pagi sekali, aku sudah harus ke sekolah, memberikan semua buku panduan sebagai wali kelas, pada Risma putri bu Kepsek yang akan mulai ngajar di sekolah ini, dan namanya pun sudah tercantum di daftar satu sejak seminggu yang lalu, berurutan dengn Sandra ponakan bukep. Dari mulai RPP, dan lain-lain yang sudah kupersiapkan sejak malam hari, sampai buku tabungan dan uangnya semua aku serahkan pada ibu guru wali kelas dua, yang baru.
            Ada rasa haru ketika anak-anak di kelas menanyakan perihal penggantian wali kela mereka yang begitu mendadak, juga orang tua murid yang bertanya-tanya, aku hanya bisa menjawab sebisanya
            “Bu guru sekarang ngajar bahasa Inggris sayang!’ jawabku ketika seorang murid bertayna mewakili tman-temannya, tiga puluh pasang mata mungil itu menatapku heran
            “Kan ada bu Risma sekarang, yuk duduk yang manis ya! Nanti bu Risma segera masuk” akupun berpamitan pada murid-muridku yang lucu-lucu dan selalu semangat ketika mengerjakan tugas, hmmmm ada rasa rindu untuk duduk di antara merek lagi, menjelakan perihal hak  dan kewajibn mereka di sekolah dan di rumah dalam pelajaran PKN kemudian disambungkan dengan Bahsa Indonesia dan IPS.
            Aku pun harus siap dengan cercaan para wali murid yang menyayangkan keputusanku untuk menjadi guru bahasa Inggris, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan akupun tak beraya dan tak tahu harus bagaimana menjawabnya,biarkanlah mereka akan  tahu sendiri pada akhirnya, walupun mereka merasa heran karena sebentar lagi akan knaikan kelas di bulan  depan.
***
            “Bu Nuning bisa bantu saya kan?” suara bu Risma membuyarkan lamunanku, dan tanpa basa nasi dia memintaku unuk mengurusi semua tetek bengek urusan administrasi kelas dua B, dengan alasan aku lebih tahu tentang kondisi dan kemampuan murid-murid di kelas itu, aku pun dengn susah payah membantunya , menerangkan dari A sampai Z, dari urusan absensi sampai urusan nilai akhir di raport mereka, walaupun lelah dan letih karena benar-benar harus menguras tenaga dan pikiran, selain itu aku pun harus mengurusi nilai dan absensi pelajaran bahasa Inggris dari kelas satu sampai enam yang berjumlah 12 rombel itu, tugas yang sebelumnya diemban oleh pak Marto yang juga wali kelas empat A, duhh Allah!! Aku hanya memekik dalm hati dan meminta perlindungn pada sang Maha kuasa, hanya kepada Dia lah  yang akan menolongku dari kegalauan dan kegelisahanku di sekolah ini.
***
            Bu Nuning ada gosip baru lho!,
            Nanti tahun ajaran baru akan ada guru baru tiga orang, yang satu di Perpustakaan, yang satu guru Pramuka gantinya pak Johan, dan yang satu lagi guru basa Sunda
Sebuah SMS mengejutkan ku di pagi hari, dari bu Teti rupanya.
            Kata siapa bu?
Aku membalas SMS itu penuh rasa ingin tahu,
            Dari pak Wakasek
            Betul nih?
            Yaaa kalo engga percaya, tanya aja sendiri!
            Ohh trus, siapa mereka?
            Sudah pasti bu, siapa lagi kalo bukan kelarga besar bu Kepsek
Huukkkk, aku langsung keselek! Mau jadi apa sekolah ini dan mau dibawa kemana? Jika yang ngajar semua adalah  keluarga besar bu Kepsek? Ini kan sekolah Negeri milik pemerintah? Kalau mereka professional dalam mengajar sih engga apa-apa, kalo asal-asalan? Aku bertanya-tanya dalam hati, sabodo amat ahhh!, aku sudah ambil keputusan sendiri, bulan depan aku mau mengundurkan diri, masih banyak kok sekolah yang manajemen nya bagus, siapa takut?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar