Senin, 23 September 2013

Andai saja….!!!



      Seorang santri yang sedang sakit (sebut saja namanya Abdul)  menatap tajam keluar jendela kamarnya, dia tidak bisa hadir di pesantren hari ini, perutnya mulas karena kebanyakan makan sambal kemarin sore di dapur pesantren.

      Tiba-tiba dia melihat dari kejauhan, seseorang berjalan kearah rumahnya, pria berkopiah hitam dan berbaju koko putih, menjinjing kantong keresek besar,  dia nampak bergegas, Abdul kenal betul dengan pria itu, dan yakin bahwa pria itu adalah ustadz Munir guru mengajinya di pesantren, ‘Hmmmm… pasti ustdaz mau marahin saya karena ga piket hari ini’ gumammnya dalam hati, dia *bersuudzon terhadap ustadznya, kemudian di berniat untuk menghindari pertemuan dengan ustadz itu.

      Sejenak dia pun berpikir, apa yang harus dilakukannya, tia-tiba…tink! Ide muncul di otaknya yang rada bolot, ‘ ahaaa ada ide! Aku mau pura-pura tidur saja’, dia pun segera *morongkol di atas kasurnya,ditutup sarung dekil yang sudah sebulan ga dicuci,Abdul tidur seperti trenggiling yang takut dicaplok lawannya

       Tok tok tok! Terdengar pintu diketuk seseorang, si Abdul pura-pura tak mendengar, “Assalamu’alikum, puntennnn!!!” ustadz Munir mengucapkan salam,

 si Abdul menahan nafas supaya tak terdengar keluar, dia semakin merapatkan sarungnya, menutupi seluruh kepalanya, 

“Assalamu’alaikum!!!” ustadz Munir mengulang salamnya, namun tetap tak ada jawaban, sejenak dia terpaku didepan pintu rumah santrinya, melongok ke dalam rumah lewat jendela namun tetap sepi…, diliriknya kantong besar yang dari tadi ditentengnya, dia pun membalikkan badan, dan kembali pulang ke Pesantren.

      Esok hari, di dapur Pesantren, si Abdul menatap tajam kearah teman-temannya yang tengah berpesta, banyak makanan terhidang, mereka duduk melingkar dan menikmati semua makanan itu, sekantung besar kacang tanah, roti berselai coklat dan keju dua tangkup, jeruk sekantung besar, dan beberapa botol minuman ringan,  kemudian tanpa segan dia pun bertanya pada teman-temannya,
Aya naon ieu teh, saha nu hajat euy?” ( Ada apa nih? Siapa yang pesta?),

 euh maneh mah sugan teh can cageur!, ieu oleh-oeh ti pak ustadz Munir, kamari ka imah maneh rek ngalongok, ngan euweuh sasaha, jadi weh oleh-olehna dibagikeun ka barudak!” (Euh kamu mah dikirain belum sembuh!, ini oleh-oleh dari ustadz Munir, kemarin ke rumah kamu mau menjenguk, tapi di rumahmu ga ada siapa-siapa, jadi oleh-olehnya dibagiin aja ke anak-anak!)

 “ Hahhhh???” si Abdul terhenyak, makanan sebanyak ini? Dasar sial! Andai saja…  dia kemarin husnudzon terhadap kedatangan pak Ustadz, mungkin makanan itu sudah dinikmatinya sendiri.

·         Suudzon : buruk sangka >< Husnudzon = baik sangka
·         Morongkol : posisi tidur tertekuk, seperti trenggiling

####

       Seorang pimpinan sebuah penerbitan menatap lekat-lekat wanita berpakaian lusuh yang duduk di hadapannya, wanita miskin itu hendak menawarkan naskah Novelnya, jangankan untuk menerbitkan naskahnya, melihat penampilan wanita inipun dia tak berminat, ingin secepatnya wanita ini berlalu dari hadapannya, pikirnya dari penampilan fisiknya saja dia sudah tidak meyakinkan, apalagi isi naskahnya.

       Menurutnya penampilan adalah modal utama dan mencerminkan apa yang ada di otak seseorang, lalu dengan tegas dan tanpa menyentuh sedikitpun terhadap naskah yang ditawarkannya itu, dia menolaknya dengan sinis. Kemudian wanita lusuh itu pun pergi dengan hati pedih.

      Beberapa waktu kemudian, sang pimpinan menyesali sikapnya terhadap wanita yang ditolak naskahnya tersebut, karena ternyata naskah wanita itu menjadi Novel best seller di seluruh dunia, kemudian dijadikan sebuah film yang masuk deretan Box Office, sang pimpinan hanya bisa merutuki kekeliruannya, andai saja… dia waktu itu menerima naskahnya dan tidak memperdulikan penampilan sang pemilik naskah, mungkin dia juga akan ikut kaya raya seperti wanita itu.

####

       “Ayahmu  kalau datang kesini pasti bikin repot! Minta dijemputlah, atau paling juga mau pinjam uang!”
seorang suami menumpahkan kekesalannya terhadap sang istri yang baru seminggu melahirkan bayinya yang kelima.

“Suruh ayahmu balik lagi ke kampungnya!” sambungnya,

sang istri hanya menangis sesenggukan, dia tidak terima ayahnya dituduh seperti itu oleh sang suami, padahal sang ayah belum juga sampai di rumah mereka, dia masih di jalan, dan menelepon supaya di jemput di depan jalan karena tidak tahu arah ke rumah mereka,

“Sekarang saya mau tanya, ayahmu pernah engga menginjakkan kakinya di rumah ini? menjenguk kita dan semua cucunya?” 

akhirnya sang istri angkat bicara juga, dia tak tahan dengan ucapan suaminya,  sang suami hanya terdiam, memang betul ucapan istrinya, ayahya tak pernah menjenguknya sekalipun, sejak mereka mnikah empat belas tahun yang lalu, hingga  sekarang  mereka mempunyai lima anak, telepon genggam kembali berdering dan ternyata sang ayah sudah sampai di depan jalan yang jaraknya beberaapa ratus meter dari rumahnya,  walau dengan terpaksa, akhirnya  sang suami mau  menjemput ayah mertuanya .

       Wajah sang istri nampak kuyu, ada bekas tangis di wajah dan terutama kelopak matanya, “Kenapa kamu nangis, Nduk?” Tanya sang ayah curiga

“ Saya hanya terharu dan bahagia ayah datang menjenguk si kecil” sang istri berbohong, dia tak tega untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada sang ayah tercinta, yang sudah lelah bepergian dari kampungnya hanya untuk menjenguk si kecil yang baru lahir seminggu.

       Sambil mmenggendong si kecil sang istri menyuguhkan nasi kuning yang dibuat khusus untuk kelahiran si kecil, melihat ayahnya makan dengan lahap, dia nampak bahagia, walaupun dia tak melihat sang suami, yang sengaja menghindari pertemuan dengan sang ayah,  dan sang istri udah mafhum.

       Ternyata sang suami ada di  kamarnya sedang tidur-tiduran di atas kasur, namun dia menguping pembicaraan sang istri dan mertuanya, “ Ini ada oleh-oleh dari kampung, Nduk!” sang ayah mengeluarkan beberapa bungkus kado dari dalam tasnya yang besar, engga tanggung-tanggung, ada sepuluh kado semuanya, anak-anak yang sedari tadi diam saja, berebutan membuka kado-kado cantik dari saudara-saudara ibunya tersebut, mereka sangat riang.

“Ini juga ada amplop dari saudara-saudara di kampung!” kemudian sang ayah mengeluarkan amplop dari daam kantung keresek kecil yang ditaruh di dalam tas paling dalam, amplop pun ada sepuuh lembar, penasaran sang istri membuka isi ampop itu di depan ayahnya, matanya terbelalak karena isinya sangat banyak, setiap amplop isinya minimal seratus ribu rupiah, total semuanya satu juta empat ratus ribu rupiah, sang istri sangat senang dan bahagia, keluarganya di kampung memang sangat menyayanginya, walaupun mereka tak bisa hadir berasama ayahnya, dia menangis terharu

“Ini khusus dari Mbah!, minggu lalu mbah panen, ada sedikit uang untuk berobat suamimu, katanya dia sakit lagi, ya.. tho…?” sang ayah menyodorkan amplop yang lebih besar, isinya tebal, sang istri ragu untuk membukanya segera,

“Bukalah, mudah-mudahan cukup untuk berobat suamimu!” sang ayah seperti mengerti dengan sikap anaknya, dibukanya segera amplop tebal itu, dan matanya tambah terbelalak, 

“Masha Allah!!! Mbah! Banyak banget! Emang mbah engga butuh?” sang istri sedikit menjerit melihat isi ampolp yang berjumlah lima juta rupiah itu, sang ayah hanya terkekeh,

“*Wis ora opo-opo, mbah ndak butuh, di bank masih ada, kasian suamimu sakit-sakitan, mudah-mudahan cepet sembuh, Nduk!”

      Di dalam kamar sang suami terperangah mendengar pembicaraan sang istri dan ayahnya, betapa tidak, orang yang dia inginkan untuk tidak hadir di rumahnya, ternyata memiliki hati mulia, andai saja… sang istri menuruti perintahnya untuk mengusir  sang ayah, mungkin uang yang dia butuhkan untuk berobat  itu tak kan pernah ada.

####

      Ini kisah Seorang gadis cantik dan tinggi semampai, kulit putih brsih, sudah barang tentu banyak pria yang menginginkannya untuk dijadikan istri, entah itu saudaranya, tetangganya, teman-temannya, dan sebagainya. Namun sudah lebih dari kepala tiga dia belum juga menikah, apa masalahnya? Padahal secara pendidikan ia dia juga sarjana, mungkin sebagian orang tidak tahu apa yang ada dalam benaknya ketika seorang laki-laki melamarnya,

“Ah paling juga dia mau sama aku karena aku sarjana kan?” tuduhny ketika seorang sepupu menawarkan pria sholih yang ingin melamarnya, namun pendidikannya lebih rendah dari dia,

Di lain waktu, “Engga ah, dari wajahnya saja aku dah ngga berminat, emangnya engga ada laki-laki yang lebih ganteng yang pantas untukku?” tolaknya setelah melihat sebuah fhoto laki-laki yang dibawa seorang temannya

Pada suatu hari, “Apa? Dia mau datang lagi kesisni? Mau apa? Aku kan sudah menolaknya berkali-kali kok dia nekat sihhh!!!, apa dia engga tau kalau aku engga suka sama dia? Dia engga tau apa kalau aku pernah sakit hati sama adiknya?, dia engga mikir kalau ibunya pernah menyakiti ibuku?” cerocosnya setelah mendengar kabar dari saudaranya bahwa seorang laki-laki yang pernah melamarnya akan datang lagi untuk mencoba melamarnya, secara ekonomi dan status sosial laki-laki ini lebih tinggi darinya.

Akhir tahun lalu, “ Saya engga suka laki-laki yang aktif di organisasi, nanti saya dicuekin lagi!, karena dia sibuk sama organisasinya!” begitulah jawabannya saat seorang saudara menawarkan seorang aktifis organisasi Islam, padahal dia juga sarjana dan kaya raya. Dan seterusnya, setiap laki-laki yang datang selalu ditolaknya mentah-mentah, tanpa mengenlanya terlebih dahulu. Namun di lubuk hatinya terdalam dia menginginkan untuk segera menikah, dia rajin berdo’a dan berharap dengan khusyuk di setiap sholatnya.  

Andai saja… dia berpikir sebaliknya, minimal terhadap salah seorang diantara laki-laki yang entah sudah orang datang melamar, mungkin dia sudah berkeluarga, bahagia dan mempunyai anak.  
                                ####