Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Lomba Flash Fiction bersama Pak Dhe Cholik

Surat Lamaran
            “Neng, tolong belikan perhiasan emas seratus gram, alat-alat Sholat yang lengkap, Al-Qur’an satu buah, dibungkus yang rapi ya!” pinta Kapten Bhirawa dari Surabaya kemarin sore, dia nampak terburu-buru, itipun lewat telepon, karena Kapten Bhirawa sedang tugas di sana, aku hanya mengiyakan, “Ukuran cincinny gimana, Mas?” tanyaku, dia hanya menjawab terserah, ukuran jariku mungkin cukup katanya, akupun memenuhi permintaannya segera setelah dia mentransfer sejumlah uang ke rekeningku.

            Kapten  Bhirawa dan aku adalah sama-sama anak angkat keluarga hajjah Nunung pensiunan guru SD di Bandung, suaminya seorang perwira Angkatan Darat yang meninggal keika tugas di Timor timur, kami diasuh sejak kami masih bayi, bedanya aku asli urang Bandung, namun Kapten Bhirawa orang Surabaya, kami sama-sama diangkat anak ketika ayah angkat kami bertugas di kota kelahiran kami, kamipun sama-sama yatim piatu sejak bayi, usia kami berbeda dua tahun, walau demikian kami dididik dengan penuh cinta dan kasih sayang oleh kedua orangtua angkat kami, mereka menyayangi kami sepenuh hati, dan kami pun saling menyayangi seperti adik dan kakak kandung.

            Sambil membungkus pesanan Kapten Bhirawa aku berbincang dengan ibu yang sudah sangat sepuh, namun beliau masih nampak sehat dan awet muda, giginya masih lengkap, hanya rambutnya saja yang memutih,
“Neng sudah beres bungkus kadonya?” tanya ibu, aku mengangguk,
“Siapa sih calon istriny Mas Bhirawa,Bu? Kok aku engga dikenalin?” tanyaku penasaran, soalnya Mas Bhirawa belum pernah memperkenalkan calonnya kepada kami, ibu hanya tersenyum, dia nampak menyembunyikan sesuatu, namun aku tak berani memaksa ibu untk mengungkapkan siapa calon istri mas Bhirawa, karena kutahu pasti Mas Bhirawa minta restu ibu dahulu jika mau menikah.

            Di pagi hari yang cerah, ketika aku menyapu halaman yang penuh dengan daun-daun kering karena musim kemarau, seorang pengantar surat datang menghampiri,

“Ada surat dari Surabaya” katanya sopan, seraya memberikan sepucuk surat padaku, ternyata untukku, namun tidak ada nama pengirimnya, segera aku robek sampulnya setelah pengantar surat itu pergi, isinya membuat lututku bergetar, ‘Neng, maukah kamu menjdi istri Mas?’ singkat dan padat namun mencengangkan, karena yang mengirim surat cinta itu adalah Mas Bhirawa.

NB: Falsh Fiction ini dikut sertakan di lombannya Pak DheGuslik Galaxi

Kamis, 16 Mei 2013

Belajar nulis flash fiction ah!



Abang
            “Let’s go to the beach!” ajaknya, aku mengangguk, seneng banget setiap diajak ke pantai, apalagi dengan….
Aku menggamit tangannya erat, dan seperti biasa ada kehangatan menjalari jemariku yang mungil, dan jemari tangan kanannya seolah menutup semua jemariku dalam genggamannya, aku  bergeming dan menikmati semuanya, tapi entahlah aku tak tahu apa yang dia rasakan sekarang, hmmmmm!!

            “Matahari itu indah ya!” Abang menunjuk matahari yang mulai tenggelam, bias sinarnya begitu memesonakan, aku hanya mengangguk, lalu kutatap dia lekat-lekat dari samping, Abang tak sadar apa yang kulakukan terhadapnya, pria tinggi besar itu tenggelam dalam lamunannya, matanya seolah tak mau kehilangna pandangan sedetikpun dari matahari hingga benda bulat itu tenggelam ke dasar lautan, ada desiran aneh di dalam dadaku, ketika kupandangi Abang kali ini, mungkinkah ini…?

            “Ayo pulang!” suara berat itu membuyarkan lamunanku, khayalku telah terbang begitu jauh,
            “Kalau kau engga malu, akan kugendong kau!’ candanya, aku hanya terkekeh, tubuh mungilku pasti dia sanggup untuk menggendongnya,
            “Coba saja!” tantangku, Abang hanya tertawa, lalu kaki kami terus berjalan menyusuri pasir pantai yang mulai gelap, rasa bahagia ini selalu hadir setiap Abang pulang untuk mengisi libur pekanannya dan mengajakku ke pantai ini.

***

            Aish, minggu ini Abang engga bisa pulang
            Maaf say!

Kubaca berkali-kali SMS Abang, ada kecewa yang sangat dalam menghunjam ulu hatiku, padahal aku sudah menunggunya selama berhari-hari, lima hari serasa lima windu menunggunya pulang, aku pun tak mengerti mengapa kerinduan ini semakin mencekam jiwaku? Dan aku tak membalas SMS nya demi kekecewaan itu, karena sudah kubayangkan, dia akan mengajakku ke pantai lagi minggu ini, seperti ber minggu-minggu sebelumnya, sejak dua tahun lalu kami saling mengenal.

            Semenjak SMS terakhir itu, Abang sulit sekali untuk dihubungi, hingga airmata kerinduan inipun sudah mengering, Abang jarang terlihat on line di facebook atau di jejaring sosial lainnya, dia tak ada  lagi membalas pesan-pesan singkatku lagi, dan anehnya kerinduan ini semakin menghunjam dan mencekam jiwaku, begitu mencekam!

***

            Kususuri pantai sendiri, mengingat kembali kenangan indah bersama Abang, dan kubiarkan angin pantai mengacak-ngacak rambutku, tak terasa buliran air mata mulai meluncur membasahi pipiku, kupandangi ombak yang menjilati bibir pantai yang tak pernah merasa bosan, aku pun mencoba demikian, menanti kehadiran Abang tanpa rasa bosan

            Tiba-tiba…

            “Aish!” suara itu membuncahkan kerinduanku padanya, aku berlari dan mendekapnya erat, air mata ini semakin tak terbendung, Abang begitu mengerti perasaanku, dan ia membiarkanku menumpahkan kerinduan itu.

            Kurasakan desiran desiran aneh menjalari hatiku lagi, kali ini lebih dalam dan sangat menjiwai, aku pun tak mengerti dengan perasaan hatiku sendiri, huff!!

            “Minggu depan ada acara engga?’
            “Engga, aku lebih suka di rumah”
            “Sesekali aku ajak ke luar kota mau ya!”
            “Kemana?”
            “Ke Bandung, mau?”
            “Oww, oke banget, ada acara apa?”
            “Hmmmmm, kamu mau bantu Abang kan?”
            “Pastinya!”
            “Thanks honey!”

Senyumanku mengembang bak bunga rose yang sedang merekah, rasa bahagia meluap-luap memenuhi jiwaku.

***

            Sekarang kukubur semua asaku terhadap Abang di pantai ini, dan tak kan pernah kubuka lagi, biarkan dia bahagia bersanding dengan wanita lain di kota kembang Bandung, karena selama ini aku sudah salah menduga. Kan kusirami kuburan cinta terpendam ini dengan air mata kerinduan semu.

            Namun, dalam lubuk hati terdalam aku berbisik

            I love U Abang, I will miss U Always!